Bab 1 Melestarikan Alam, Menjaga Kehidupan


Membaca Lam Tebal dan Lam Tipis dengan Benar


Terkadang, huruf lam dibaca tebal (تَفْخِيْمٌ), terkadang pula dibaca tipis (تَرْقِيْقٌ). Kedua cara baca huruf lam tersebut tergantung pada keadaan yang menyebabkannya. Huruf lam yang dimaksud adalah lam dalam lafdzul jalalah (الله). Nah, dalam keadaan seperti apakah huruf lam harus dibaca tebal atau tipis?

Lam dibaca Tebal (Tafkhim)
Huruf lam dalam lafdzul jalalah (الله) harus dibaca tebal hingga memenuhi rongga mulut manakala didahului oleh harakat fathah atau dhammah, demikian juga lafdzul jalalah (الله) menjadi permulaan kalimat. Perhatikan tabel berikut! 

Lam Lafdzul Jalalah (الله) dibaca Tebal (تَفْخِيْمٌ)

Didahului Dhammah

Didahului Fathah

Permulaan Kalimat

رَسُوْلُ اللهِ

قَالَ اللهُ

اللهُ الصَّمَدُ

كَلِيْمُ اللهِ

سَمِعَ اللهُ

اللهُ لاَ اِلهَ

خَلِيْلُ اللهِ

وَاللهُ

اللهُ اَكْبَرُ

 Cara membaca Lam Tafkhim adalah dengan bibir sedikit kedepan (manyun/agak menonjol ke depan) dan daun lidah ditempelkan pada langit-langit atas.

Lam dibaca Tipis (Tarqiq)
Huruf lam dalam lafdzul jalalah (الله) harus dibaca tipis atau ringan apabila didahului oleh harakat Kasrah. Demikian juga, huruf lam yang bukan lafdzul jalalah dibaca ringan atau tipis. Perhatikan contoh berikut!

Lam Lafdzul Jalalah (الله) dibaca Tipis (تَرْقِيْقٌ)

بِسْمِ اللهِ

Didahului Kasrah

قُلِ اللَّهُمَّ

عِنْدِ اللهِ

 Cara membaca Lam Tarqiq adalah dengan menarik bibir sedikit ke belakang hingga agak meringis.


 
Membaca Ra Tebal dan Ra Tipis dengan Benar


Ra yang dibaca Tebal

Huruf Ra harus dibaca tebal jika terdapat dalam tujuh (7) keadaan sebagai berikut:

1.    Huruf Ra berharakat fathah atau dhammah, baik saat waqaf maupun washal. Contoh:

Ra Fathah

Ra Dhammah

فَمَا رَبِحَتْ

رُسُلِهِ

FA-MAA-RA-BI-HAT

RU-SU-LIHI

تِجَارَتِهِمْ

كَفَرُوْا

TI-JAA-RA-TI-HIM

KA-FA-RUU

اَلرَّحْمَنُ

رُحَمَاءُ

AR-RAH-MAANU

RU-HA-MAA-U

2.     Huruf Ra sukun asli didahului huruf berharakat fathah atau dhammah. Contoh:

Ra Fathah

Ra Dhammah

بُرْتُقَاتْ

مَرْقَدِنَا

BUR-TU-QAAT

MAR-QA-DI-NAA

بُرْهَانٌ

اَرْحَمَ

BUR-HAA-NUN

AR-HA-MA

يُرْجَعُوْنَ

عَرْشُه،

YUR-JA-‘UUNA

‘AR-SYU-HUU

3.     Huruf Ra’ sukun karena waqaf (bukan asli) didahului huruf berharakat fathah atau dhammah. Contoh:

Ra’ sukun (waqaf) didahului huruf berharakat

fathah atau dhammah

Ra Fathah

Ra Dhammah

قَوْلُ الْبَشَرِ

اَلتَّكَاثُرُ

QAU-LUL-BA-SYAR

AT-TA-KAA-TSUR

تَنْهَرْ

فَاهْجُرْ

TAN-HAR

FAH-JUR

4.     Huruf Ra’ sukun karena waqaf, dan sebelumnya terdapat huruf sukun yang jatuh setelah huruf berharakat fathah atau dhammah. Contoh:

Ra Sukun (waqaf) didahului huruf sukun setelah huruf berharakat fathah atau dhammah

لَيْلَةُ الْقَدْرِ

LAI-LATUL-QADR

بِالصَّبْرِ

BISH-SHABR

5.     Huruf Ra’ sukun karena waqaf didahului oleh huruf berharakat fathah atau dhammah. Sedangkan di antara keduanya terdapat huruf mad berupa alif atau wawu. Contoh:

Ra Sukun (waqaf) didahului huruf berharakat fathah atau dhammah yang dipisah huruf mad

مَافِي الصُّدُوُرِ

MAA FISH-SHU-DUUR

مِنْ تَحْتِهَاالْأَنْهَارُ

MINN-TAH-TI-HAL-AN-HAAR

6.    Huruf Ra’ sukun jatuh setelah hamzah washal. Contoh:

Ra Sukun didahului hamzah washal

ارْجِعِيْ اِلَى رَبِّكِ

IR-JI’II-ILAA-RAB-BI-KA

وَارْكَعُوْا

WAR-KA-‘UU

7.    Huruf Ra’ sukun didahului oleh harakat kasrah, serta menghadapi salah satu huruf isti’la (خ ص ض ع ط ظ ق) yang berharakat selain kasrah. Contohnya:

Ra Sukun didahului harakat kasrah dan bertemu dengan huruf isti’la’

مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ

MIN-KUL-LI-FIR-QATIN

لَبِالْمِرْصَادُ

LA-BIL-MIR-SHAAD

 

Ra’ yang Dibaca Tipis

Huruf Ra’ harus dibaca tipis jika terdapat dalam lima (5) kondisi berikut:

1.    Huruf Ra’ berharakat kasrah. Contohnya:

وَاَرِنَا مَنَا سِكَنَا

شَرُّالْبَرِيَّةِ

اَلْقَارِعَةُ

WA-ARINA-MA-NAA-SI-KA-NAA

SYAR-RUL-BA-RIY-YAH

AL-QAA-RI-‘AH

2.    Huruf Ra’ sukun setelah huruf yang berharakat kasrah asli, sedangkan huruf setelah Ra’ bukan huruf isti’la’. Contohnya:

فَبَشِّرْهُ

ذَكِّرْتُمْ

FA-BASY-SYIR-HU

DZUK-KIR-TUM

3.    Huruf Ra’ sukun (karena Waqaf) sesudah huruf ya (lin) yang sukun, sementara huruf sebelumnya ya sukun itu berharakat kasrah. Contoh:

شَيْءٍ قَدِيْرٌ

سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ

SYAI-IN-QA-DIIR

SA-MII-‘UN-BA-SHIIR

4.  Huruf Ra’ sukun (karena Waqaf) sesudah huruf ya (lin) yang sukun, sementara huruf sebelumnya ya sukun itu berharakat kasrah. Contoh:

بِيَدِكَ الْخَيْرٌ

BI-YA-DI-KAL-KHA-IIR

5.   Huruf Ra’ sukun (karena waqaf) setelah huruf berharakat kasrah yang bukan huruf isti’la’. Contohnya:

زُرْتُمُ الْمَقَابِرُ

رَجْعِهِ لَقَادِرٌ

تُبْلَى السَّرَائِرُ

ZUR-TU-MUL-MA-QAA-BIR

RAJ-‘IHII-LA-QAA-DIR

TUB-LAS-SA-RAA-IR

Setelah membaca kaidah tajwid tentang lam jalālah dan ra, tentu kini kalian sudah memahami cara membacanya. Sekarang, praktikkan dalam bacaan Q.S ar-Rum/30:41, Ibrahim/14:32, dan az-Zukhruf/43:13 berikut!

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."


"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai."


"Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,"


Setelah mempraktikkan bacaan lam jalalah dan ra tafkhim dan tarqiq, silahkan kerjakan LKPD melalui link ini LKPD

Posting Komentar

0 Komentar